Monday, March 2, 2009

Masih tentang RS ku...

RSU Propinsi Kepri yang kalau dari namanya kira-kira terletak di ibukota propinsi Kepulauan Riau yaitu di Tanjung Pinang, ternyata terletak di sebuah kota kecamatan yang sepi yaitu Tanjung Uban.

Mungkin semua orang nggak habis mikir …kok sebuah RSU Propinsi yang dalam pikiran setiap orang pastilah sebuah RS yang fasilitasnya terbaik dip0pinsi ini bisa terletak disebuah kota kecamatan kecil? Aku juga nggak tahu persis kenapa.

Kalau dikira-kira mungkin pemikirannya begini: Tanjung Uban letaknya diantara Tanjung PInang (Bintan) dan Batam, karena dari dulu sebelum pilgub Kepri sudah digembar gemborkan bahwa akan dibangun jembatan penghubung antara pulu Bintan dan Batam yang namanya Jembatan Babin. Nah kalau ada jembatan sudah pasti letak RSU ini sangat sangat sangat strategsi sekali…

Tapi apa lacur? jembatan yang sangat diimpikan oleh masyarakat kedua pulau tinggal hanya cerita kopi thiam. Sampai sekarang gossipnya saja sudah tidak terdengar lagi.

RSU yang sebelumnya direncanakan memiliki fasilitas terlengkap dan tercanggih di Kepri, kini tak rubahnya sebuah RS type C yang baru punya 4 dokter spesialis utama (anak, obgyn, bedah dan penyakit dalam). Itupun dokter anaknya masih “meminjam” dari Kabupaten Bintan. Luas lahan yang sebelumnya dirancang seluas 10 hektar kini tinggal 2 hektar saja.

Saat ini keberadaan RS ini terasa sangat meringankan masyaralat sekitarnya, karena tingkat rujukan menjadi turun secara drastis. Sebetulnya angka rujukan masih bisa ditekan lebih rendah lagi jika RS ini sudah dilengkapi dengan fasilitas bank darah dan adanya dokter ahli anestesi yang tinggal menetap di Tanjung Uban (stand by 24 hours).

Kebanyakan pasien yang dirujuk sekarang ini adalah karena dua alasan tersebut. Dokter anestesi rasanya sulit akan mau menetap di Tanjung Uban…Why…sedangkan ditempatkan di Tanjung Pinang saja yang nota bene lebih ramai dari Tanjung Uban, pada hijrah ke Batam. Tidak munafik…dokter ahli pada umumnya berlomba-lomba ke kota besar di samping alasan seperti pendidikan, anak alasan utama nya adalah untuk mendapatkan rupiah yang lebih besar. dokter juga manusia…

Supaya dokternya mau bertugas ditempat seperti ini nggak ada cara lain kecuali memberikan tunjangan yang memadai bagi dokter ahli yang bertugas ditempat ini sehingga alasan materi untuk tidak mau bertugas di tempat yang sepi menjadi hilang.

Sebagai contoh di propinsi induk Riau, seorang dokter ahli 4 besar diberi tunjangan lebih dari Rp 20 juta, diberi fasilitas rumah dan kendaraan agar mau bertugas di daerah seperti Bengkalis atau Siak. Hal ini wajar, karena seorang dokter yang baru tamat pendidikan ahli tentunya berharap suatu perbaikan nasib setelah menamatkan pendidikan ahlinya (waktu sekolah juga banyak menghabiskan dana, untung bagi yang dapat bantuan daerah). Kalau dituntut hanya pengabdian saja kasihan sekali mereka...